https://ejournal.imbima.org/index.php/healthcare/issue/feedHealthcare: Jurnal Ilmiah Kesehatan2026-05-15T09:14:58+00:00Mardian Andrianiinsanmuliabima@gmail.comOpen Journal Systems<p><strong>HEALTHCARE: JURNAL ILMIAH KESEHATAN</strong> is a health journal published by the Yayasan Insan Mulia Bima. Healthcare: Jurnal Ilmiah Kesehatan is published twice a year (every June and December) as a means of scientific publication by researchers, academics, professionals and practitioners in the health sector. Editors accept articles through strict selection, peer review, and serious editing.</p> <p>This journal provides a platform for sharing and disseminating research results in the Health sector which include: Nursing, Midwifery, Nutrition, Public Health, Medicine, Physiotherapy, Radiology, Pharmacy, Medical Analysis, Environmental Health, Boitechnology, Hospital Management, and other health fields.</p>https://ejournal.imbima.org/index.php/healthcare/article/view/737Mekanisme yang Diinduksi oleh Hipoksia dalam Fibrosis Hepar: Tinjauan Sistematis2026-02-20T05:12:08+00:00Dwi Widyawatidwiwidya700@gmail.comGhea Farmaning Thias PutriGhea.Farmaning@untirta.ac.idAyu Tiara FitriAyutiarafitri@fk.unila.ac.id<p>Fibrosis hepar merupakan respons patologis terhadap cedera hepar kronik yang dapat berkembang menjadi sirosis dan kegagalan hepar. Berbagai bukti ilmiah menunjukkan bahwa hipoksia pada mikro-lingkungan hepar berperan penting dalam proses fibrogenesis. Tinjauan sistematis ini bertujuan untuk mengkaji mekanisme yang diinduksi oleh hipoksia dalam perkembangan dan progresi fibrosis hepar. Pencarian literatur dilakukan secara sistematis menggunakan basis data PubMed dan Google Scholar terhadap artikel yang diterbitkan pada periode 2014-2024. Proses penelusuran dan seleksi artikel mengikuti pedoman <em>Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses</em> (PRISMA) dengan menggunakan kerangka PECOT. Studi orisinal yang membahas peran hipoksia dalam mekanisme fibrosis hepar disertakan dan dianalisis secara kualitatif menggunakan pendekatan naratif. Sebanyak 18 studi memenuhi kriteria inklusi. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa hipoksia berkontribusi terhadap fibrosis hepar melalui aktivasi sel stelata hepatik, regulasi jalur <em>hypoxia-inducible factor</em> (HIF), pembentukan positive feedback loop HIF-1α, gangguan mikrosirkulasi, serta remodeling matriks ekstraseluler yang dipicu hipoksia. Interaksi mekanisme tersebut membentuk siklus patologis yang bersifat self-sustaining dan mempercepat progresi fibrosis. Hipoksia juga berperan dalam mempertahankan dan mempercepat progresi fibrosis pada penyakit hepar kronik. Dapat disimpulkan bahwa hipoksia merupakan faktor patogenetik penting dalam fibrosis hepar melalui berbagai mekanisme seluler dan molekuler. Pemahaman mengenai peran hipoksia diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan strategi pencegahan dan terapi untuk memperlambat progresi fibrosis hepar.</p>2026-05-12T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Dwi Widyawati, Ghea Farmaning Thias Putri, Ayu Tiara Fitrihttps://ejournal.imbima.org/index.php/healthcare/article/view/738Analisis Dinamika Ibu Hamil dan Cakupan Distribusi Tablet Tambah Darah di Provinsi Lampung Tahun 2021-20242026-02-28T04:52:36+00:00Khorina Fatin Bilqiskhorinafatin@fk.unila.ac.idShellya Puti Sudestyshellyaputisudesty@fk.unila.ac.id<p>Kecukupan zat besi selama kehamilan merupakan determinan utama dalam menjaga stabilitas kadar hemoglobin dan mendukung homeostasis reproduksi maternal. Adaptasi fisiologis berupa ekspansi volume plasma, peningkatan massa eritrosit, serta kebutuhan pertumbuhan janin menyebabkan peningkatan kebutuhan zat besi yang signifikan. Apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi melalui asupan dan suplementasi yang adekuat, risiko anemia defisiensi besi meningkat dan berpotensi menimbulkan gangguan perfusi uteroplasenta, penurunan kapasitas transport oksigen, serta komplikasi obstetrik. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika jumlah ibu hamil dan cakupan distribusi Tablet Tambah Darah (TTD/Fe) di Provinsi Lampung tahun 2021–2024 serta mengkaji implikasinya terhadap stabilitas fisiologis maternal. Penelitian menggunakan desain observasional deskriptif dengan pendekatan kuantitatif longitudinal berbasis data sekunder dari publikasi Provinsi Lampung Dalam Angka 2025. Analisis dilakukan dengan menghitung proporsi cakupan distribusi TTD setiap tahun dan mengevaluasi tren perubahan jumlah sasaran dan penerima suplementasi. Hasil menunjukkan jumlah ibu hamil relatif stabil pada periode 2021–2023 (sekitar 158 ribu) dan meningkat signifikan pada 2024 menjadi 170.972. Cakupan distribusi TTD menurun pada 2022 (47,46%), kemudian meningkat pada 2023 (61,78%) dan relatif stabil pada 2024 (61,29%). Meskipun terjadi perbaikan, sekitar 40% ibu hamil belum memperoleh suplementasi optimal. Kesenjangan ini berpotensi memengaruhi keseimbangan hematologis, metabolisme energi seluler, serta regulasi hormonal selama kehamilan. Disimpulkan bahwa penguatan konsistensi distribusi dan peningkatan kepatuhan konsumsi TTD sangat diperlukan guna mencegah anemia maternal serta mendukung luaran kehamilan yang sehat dan berkelanjutan.</p>2026-05-12T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Khorina Fatin Bilqis, Shellya Puti Sudestyhttps://ejournal.imbima.org/index.php/healthcare/article/view/739Penargetan Terapeutik Aksis AMPK–SREBP pada Disregulasi Metabolisme Lemak: Implikasinya terhadap Sindrom Metabolik dan NAFLD2026-03-01T14:24:18+00:00Sri Octa Handayanihandayanisri@fk.unila.ac.idShellya Puti Sudestyshellyaputisudesty@fk.unila.ac.id<p>Disregulasi metabolisme lemak merupakan mekanisme utama dalam patogenesis sindrom metabolik dan non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD), yang prevalensinya terus meningkat secara global. Aksis AMP-activated protein kinase (AMPK)–sterol regulatory element-binding protein (SREBP) berperan penting dalam menjaga keseimbangan antara lipogenesis dan oksidasi asam lemak. Review ini bertujuan untuk mengkaji peran molekuler aksis AMPK–SREBP dalam disregulasi metabolisme lipid serta mengevaluasi potensi intervensi terapeutik yang menargetkan jalur tersebut pada sindrom metabolik dan NAFLD. Penelitian disusun sebagai structured narrative review dengan penelusuran literatur melalui PubMed, Scopus, dan Web of Science pada periode 2020–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas SREBP-1c dan penurunan aktivasi AMPK berkontribusi terhadap peningkatan lipogenesis, penurunan oksidasi asam lemak, serta akumulasi lipid intrahepatik. Berbagai intervensi farmakologis dan senyawa alami, termasuk kombinasi metformin–berberine, flavonoid, stilben, lignan, alkaloid, dan molekul sintetik, terbukti mengaktivasi AMPK dan menekan ekspresi SREBP-1c, sehingga memperbaiki steatosis, resistensi insulin, inflamasi, dan stres oksidatif pada model praklinis NAFLD. Secara keseluruhan, aksis AMPK–SREBP merupakan target terapeutik yang menjanjikan dalam pengendalian sindrom metabolik dan NAFLD. Meskipun sebagian besar bukti masih bersifat praklinis, konsistensi mekanisme molekuler yang dilaporkan mendukung pengembangan penelitian translasi dan uji klinis lebih lanjut.</p>2026-05-12T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Sri Octa Handayani, Shellya Puti Sudestyhttps://ejournal.imbima.org/index.php/healthcare/article/view/803Physiological Changes During Childhood and Adolescence and Their Implications for Nutritional Requirements: A Narrative Review2026-05-14T12:58:48+00:00Zaenudin Zaenudinzaenudin0396@gmail.comDwi Widyawatidwi.widyawati@untirta.ac.id<p>Childhood and adolescence are critical periods in the human life cycle characterized by physical growth, cognitive development, organ maturation, as well as rapid hormonal and psychosocial changes. Physiological changes occurring at each developmental stage influence nutritional requirements and dietary patterns needed to support optimal growth and development. This article aimed to review physiological changes during childhood and adolescence and their implications for nutritional requirements based on scientific literature. This article employed a narrative review method through literature searches conducted in several electronic databases, including PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, and Garuda. The search strategy used combinations of keywords related to physiological changes, nutritional requirements, diet, children, and adolescents. The selected literature was determined based on thematic relevance, full-text availability, and its association with physiological changes and nutritional requirements in children and adolescents. The review findings indicated that preschool and school-age children require adequate energy and nutrient intake to support growth, physical activity, and cognitive development. Meanwhile, adolescents experience increased requirements for energy, protein, iron, calcium, and vitamin D due to accelerated growth and hormonal changes during puberty. In addition to physiological factors, dietary patterns among children and adolescents are also influenced by family environment, lifestyle, and social media exposure, which may increase the risk of obesity, anemia, and micronutrient deficiencies. Therefore, adequate nutritional intake according to developmental stages and the role of healthcare professionals in nutrition education are essential to support optimal growth and development in children and adolescents.</p>2026-05-29T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Zaenudin Zaenudin, Dwi Widyawatihttps://ejournal.imbima.org/index.php/healthcare/article/view/804ROS Signaling and Exercise Adaptation: The Physiological Basis of HIIT and MICT Responses2026-05-15T09:14:58+00:00Shellya Puti Sudestyshellyaputisudesty@fk.unila.ac.idRifda El Mahroosrifdaelmahroos@gmail.comKhorina Fatin Bilqiskhorinafatin@fk.unila.ac.idSri Octa Handayanihandayanisri@fk.unila.ac.id<p>Reactive oxygen species (ROS) are reactive molecules that play an important role in the physiological response to physical exercise. Although ROS are commonly associated with oxidative stress and cellular damage, recent scientific evidence suggests that ROS also function as signaling molecules that mediate metabolic, mitochondrial, and cardiometabolic adaptations during exercise. This literature review aimed to analyze the role of ROS signaling in exercise adaptation, particularly in high-intensity interval training (HIIT) and moderate-intensity continuous training (MICT), from the perspective of exercise physiology and redox biology. The review employed a narrative literature review approach through article searches in Scopus, PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar databases published between 2018 and 2026. A total of 24 eligible articles were qualitatively analyzed based on their focus on redox signaling, mitochondrial adaptation, molecular pathways, and cardiometabolic responses to exercise. The findings demonstrated that physiological levels of ROS activate signaling pathways including AMPK, PGC-1α, Nrf2, MAPK, and NF-κB, which contribute to mitochondrial biogenesis, endogenous antioxidant enhancement, insulin sensitivity, and metabolic efficiency. HIIT generally induces a greater and more rapid oxidative stimulus that promotes stronger molecular adaptation, whereas MICT produces a more stable and sustained redox response. Both exercise modalities provide beneficial effects on cardiometabolic health through distinct adaptive mechanisms. Therefore, ROS signaling represents an essential physiological component linking exercise stimuli to metabolic and mitochondrial adaptation.</p>2026-05-29T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Shellya Puti Sudesty, Rifda El Mahroos, Khorina Fatin Bilqis, Sri Octa Handayani